Tampilkan postingan dengan label IQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IQ. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Januari 2011

APAKAH ANDA MEMPUNYAI IQ FINANSIAL YANG TINGGI?


APAKAH ANDA MEMPUNYAI IQ FINANSIAL YANG TINGGI?

Ketika anda mengatakan seseorang mempunyai IQ yang tinggi : Apakah itu artinya? Apakah yang di ukur oleh IQ anda? Apakah mempunyai IQ yang tinggi menjamin bahwa anda akan sukses? Apakah mempunyai IQ yang tinggi berarti anda akan kaya?

Robert T kiyosaki ~bercerita~:
“Katanya” Ketika duduk dikelas empat SD,gurunya mengumumkan dikelas “ANAK-ANAK” Kita diberi kehormatan untuk mempunyai seorang jenius ditengah tengah kita….Dia anak yang sangat berbakat dan mempunyai IQ yang sangat tinggi. Guru itu terus mengatakan bahwa salah satu teman terbaik saya,ANDY adalah salah satu siswa terpandai yang pernah dia ajar secara khusus. Sebelum guru saya mengatakan hal itu”ANDY SISEMUT”begitulah kami semua memanggil ANDY,hanyalah salah serang anak dikelas seperti anak anak lainnya…..kami menyebutnya “ANDY SISEMUT” karena dia kecil dan berkacamata tebal sehingga membuatnya seperti seekor serangga,sekarang kami harus memanggilnya “ANDY SISEMUT PINTAR. Karena tidak tau apa arti IQ ,saya mengangkat tangan dan bertanya pada guru”Apa arti IQ?”…guru saya agak kaget,sambil menggerutu ia menjawab IQ berarti INTELLIGENCE QUOTIEN Atau ukuran kecerdasan seseorang.


Dia lalu menatap saya dengan bengis seolah olah mengatakan”sekarang kamu tahukan apa arti IQ!
Masalahnya adalah ,saya tetap belum mengerti apa arti IQ.Maka sayapun mengangangkat tangan lagi,guru itu berusaha sahalus mungkin untuk mengabaikan saya,tetapi akhirnya dia berbalik dan berkata dengan nada keras “YA KAMU MAU TANYA APA LAGI KALI INI?!” Begini…! ibu bilang IQ berarti INTELLIGENCE QUOTIEN, Tapia pa artinya? Saya tetap belum mengerti”…..Dia kembali menggerutu dengan kesabaran yang mulai habis”….saya sudah bilang bahwa jika kamu tidak mengerti definisi sesuatu,kamu harus mencarinya,…dan sekarang kamu ambil kamus dan carilah sendiri”…baiklah “kata saya dengan senyum lebar,merasa guru sayapun juga Tidak mengetahui,DEFINISINYA,Seandainya dia tahu dengan bangga dia akan menjelaskan keseluruh kelas.


Setelah akhirnya menemukan”INTELLIGENCE QUOTIENT”dikamus saya membaca definisi itu keras keras,dengan mengutip langsung,”KATA BENDA (1916)ANGKA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGUNGKAPKAN KECERDASAN RELATIF YANG TAMPAK JELAS DARI SESEORANG YANG DITENTUKAN DENGAN MEMBAGI USIA MENTALNYA#SEPERTI DILAPORKAN PADA TES YANG TELAH DIBAKUKAN DENGAN USIA KRONOLOGISNYA DAN MENGALIKANNYA DENGAN 100.ketika saya selesai membaca defenisi itu,saya mendongak dan mengatakan ,saya belum mengerti apa itu IQ!


Usia mental (mental age)adalah kapasitas otak diukur berdasarkan usia rata anak anak yang memiliki standar pemikiran yang sama.Karena prustasi guru saya meninggikan suaranya dan berkata…kamu tidak mengerti karena kamu tida mau mengerti,jika kamu tidak memahaminya kamu harus melakukan riset sendiri.
Pada saat itu :ANDY SISEMUT: berdiri dan berkata aku akan menjelaskannya kepada kalian semua,dia berdiri dan melangkah kepapan tulis didepan kelas lalu dia menulis d ipapan. 18(usia mental):10 (usia kronologis)X100=IQ180
“jadi orang mengatakan aku jenius karena aku berusia sepuluh tahun tetapi mempunyai angka tes seseorang yang berusia 18 tahun.”para siswa duduk dengan diam selama beberapa saat,untuk mencerna informasi yang ditulis di papan.
Dengan kata lain,jika anda tidak meningkatkan kemampuan anda untuk belajar sewaktu anda bertambah tua ,maka IQ anda bias menurun….aku rasa begitu,kata ANDY”hari ini mungkkin aku jenius tetapi jika aku tidak meningkatkan apa yang aku tahu IQku akan menurun setiap tahun,setidaknya itulah yang hendak dikatakan oleh persamaan diatas.


Jadi anda bias menjadi orang jenius hari ini tetapi menjadi orang bodoh esok hari,….sahut saya sambil tertawa…..kedengarannya memang sangat lucu,kata ANDY,tapi akurat namun aku tahu aku tidak perlu khawatir bila kamu kamu mengalahkan ku. ….itulah definisi IQ(INTELLIGENCE QUOTIENT) .
Dan sekarang ! BERAPA IQ FINANSIAL ANDA?


Bagaimana mengukur IQ finanasial orang?….apakah mengukurnya dengan:
BERAPA BESAR GAJINYA?
BERAPA KEKAYAAN BERSIHNYA?
APA JENIS MOBIL YANG DIPUNYAI?
BERAPA UKURAN RUMAHNYA? DLL.
Apakah sebenarnya arti IQ FINANSIAL ITU? Jawabnya adalah:
“KECERDASAN FINANSIAL BUKANLAH SOAL BERAPA BANYAK UANG YANG ANDA HASILKAN,TETAPI INI SOAL SEBERAPA BANYAK UANG YANG ANDA SIMPAN DAN BERAPA JAUH UANG ITU BEKERJA UNTUK ANDA”.


Namun dengan berlalunya waktu,kita memperhalus definisinya.Tentang kecerdasan FINANSIAL.PERLU ANDA KETAHUI kecerdasan FINANSIAL anda bertambah tinggi bila saat anda bertambah tua,uang anda bias membelikan kebebasan,kebahagiaan,kesehatan ,dan berbagai pilihan dalam hidup ini untuk anda.
Bahwa banyak orang menghasilkan banyak uang ketika mereka bertambah tua,tetapi uang mereka hanya membelikan sedikit kebebasan untuk mereka_karena mereka harus membayar utang yang lebih besar,mempunyai utang lebih besar berarti orang itu harus bekerja lebih keras untuk membayarnya,dan itu bukanlah cerdas secara FINANSIAL.


Kita melihat banyak orang menghasilkan banyak uang ,tetapi uang mereka tidak membuat mereka lebih bahagia,,,prtanyaannya mengapa bekerja untuk mendapatkan uang dan tidak bahagia?
Itu tidaklah cerdas secara FINANSIAL!
JIKA ANDA HARUS BEKERJA DEMI UANG,CARILAH CARA UNTUK BEKERJA DAN MENJADI BAHAGIA…..DAN  ITULAH KECERDASAN FINANSIAL!


Bila menyangkut masalah kesehatan,..begitu banyak orang bekerja terlalu keras demi uang dan perlahan lahan membunuh diri mereka sendiri tanpa sadar,…mengapa bekrja keras dengan mengorbankan kesejahtraan ental dan fisik ,keluarga anda bahkan diri anda sendiri.
ITU TIDAKLAH CERDAS SECARA FINANSIAL!!!
Tidak ada hal yang serupa dengan serangan jantung tiba2,serangan jantung dan penyakit lain seperti KANKER butuh waktu untuk berkembang.Penyakit penyakit itu disebabkan karena kurangnya olah raga,tak pernah diet dan tidak pernah gembira dalam hidup untuk jangka waktu yang lama…makanya kita dianjurkan rekreasi ketempat tempat yang mengembirakan.
Dari ketiga hal itu kurangnya kegembiraan adalah penyebab terbesar dari serangan jantung dan penyakit lainnya. Terlalu banyak orang brfikir tentang bekerja lebih keras dari pada tentang bagaimana caranya lebih gembira dan menikmati anugrah kehidupan yang besar ini.


Bila menyangkut pilihan,kita tahu,duduk dikelas eksekutif pesawat tiba pada waktu yang sama dengan mereka yang duduk dikelas ekonomi…tapi bukan itu masalahnya…yang jadi masalah adalah:
APAKAH ANDA MEMPUNYAI PILIHAN UNTUK DUDUK DIKELAS EKSEKUTIF ATAU DIKELAS EKONOMI !
Kebanyakan orang dikelas ekonomi tidak mempunyai pilihan,…..DAN PERLU ANDA KETAHUI BAHWA KECERDASAN FINANSIAL MEMBERI ORANG LEBIH BANYAK PILIHAN DALAM HIDUPNYA.


IQ financial tidak diukur dengan ukuran FINANSIAL tradisional ,…dengan kata lain,dia tidak pernah terpaku pada seberapa banyak uang yang anda miliki atau kekayaan bersih anda…!atau ukuran fortofolio anda,…JIKA ANDA INGIN MENDEFINISIKAN APA YANG DIBELIKAN KECERDASAN FINANSIAL UNTUK ANDA ITU ADALAH MEMPUNYAI BANYAK PILIHAN DALAM HIDUP INI DAN KEBEBASAN WAKTU DAN FINANSIAL.


Apakah anda tidak senang mempunyai kebebasan untuk bekerja atau tidak bekerja,dan kebebasan memilih dengan siapa anda bekerja? …Apakah anda tidak menyukai kebebasan untuk membeli apa saja yang anda inginkan tanpa khawatir soal harga??…Tidakkah anda menyukai kesehatan??…kebahagiaan??..dan banyaak pilihan yang anda peroleh dan yang terbaik karna anda bebas scara financial dan waktu.
Saya sangat menyukai kebebasan dan kemampuan financial untuk menyumbang kegiatan amal untuk membantu mereka yang tertimpa masalah.


Namun yang paling kita sukai adalah waktu luang yang dibelikan uang kita,Anda tentu sangat senang mempunyai waktu untuk mengawasi anak-anak kita tumbuh menjadi dewasa dan bekerja dalam proyek proyek yang mereka minati,entah itu menghasilkan uang atau tidak.
“JADI MENGUKUR IQ FINANSIAL DITENTUKAN DALAM WAKTU”
“DARIPADA DALAM UANG”.
Tahun tahun belakangan hidup anda harus yang paling menggembirakan dimana anda menghabiskan sebagian besar waktu anda untuk menyumbangkan uang anda daripada berusaha untuk menghematnya atau bergantung padanya.Anda harus jauh lebih gembira untuk menyumbangkan uang anda sebagai dermawan…..dan hidup anda akan kaya,bahagia dan murah hati,yang paling penting adalah anda mempunyai hidup bebas yang tak terbatas,dan itulah ukuran IQ FINANCIAL.


“IQ ANDA BISA MENURUN!”
Tampak jelas bagi kita hidup adalah pengalaman belajar seumur hidup.sama dengan kura kura berbaring santai dan kemudian tertidur,banyak orang akan berbaring santai dan tertidur setelah meninggalkan bangku sekolah.Dalam dunia sekarang yang berubah sangat cepat,jenis prilaku itu bisa menjadi sangat mahal,periksalah kembali defenisi IQ.
UMUR MENTAL:UMUR KRONOLOGISx100=IQ
Menurut defenisi secara tekhnis IQ anda menurun setiap tahun bersamaan dengan bertambahnya umur anda.itu sebabnya cerita tentang kura kura dan kelinci adalah benar.
Jika kita menghadiri reuni teman teman SMU,kita seringkali dapat mengenali kelinci kelinci yang tertidur dipinggir jalan.kerapkali mereka yang dulunya adalah murid murid yang dianggap paling mungkin berhasil…!tetapi mereka tidak berhasil.
MEREKA LUPA BAHWA PENDIDIKAN HIDUP TERUS BERLANGSUNG LAMA SETELAH SEKOLAH USAI 


Bagaiman dengan anda saat ini ,apakah anda sudah berhasil seperti yang anda inginkan dahulu?…atau malah sama dengan kura kura berbaring santai dan kemudian tertidur…?
Survey membuktikan:HIDUP SETELAH UMUR 65 TAHUN:
35% diantaranya sudah meninggal
5% pensiun dengan tunjangan
4% masih bekerja
55% miskin
1% kaya


Menurut anda ,adakah arti informasi ini buat anda.?…untuk kehidupan anda…?untuk hidup anda disaat umur anda 65 tahun.! Dimana seharusnya posisi anda kelak disaat umur 65 menghampiri anda…?
35% yang sudah meninggal ini menurut survey juga:
35% diantaranya hanya meninggalkan utang bagi ahli warisnya
5% mininggalkan pensiunan saja
4% meninggalkan RENCANA yg masih harus dikerjakan ahli waris
55 % tidak meninggalkan apa apa sama sekali untuk ahli warisnya kecuali NAMA.
1 % meninggalkan harta dan asset yang berlimpah untuk ahli warisnya


Sudahkah anda tau??bahwa ternyata posisi tempat kita kelak disaat sudah berumur 65 tahun ditentukan apa yang kita lakukan sebelum umur tersebut seperti kata nasehat berikut”SIAPA ANDA SEKARANG ADALAH SEBUAH REFLEKSI DIRI ANDA DIAMASA LALU DAN SIAPA ANDA PADA SAAT UMUR 65 TAHUN KELAK ADALAH SEBUAH REFLEKSI DIRI ANDA SEKARANG”
Dan ternyata ini sesuai dengan hukum agama apapun, yang berbunyi ALLAH TELAH SIAPKAN DUA TEMPAT TUJUAN AKHIR BAGI SELURUH MANUSIA,…MANUSIA TINGGAL MEMILIH YANG MANA DIA SUKA ( SURGA ATAU NERAKA) DAN DITENTUKAN APA YANG DIA PERBUAT SEMASA HIDUP DIDUNIA,(yang ini porsinya para ulama saya tidak berkompoten untuk membahas lebih dalam silakan berkonsultasi kepada ahlinya)


BERUSAHA “DIREPUBLIK KAPLING” Paulus s,Fajar
“Sesungguhnya setiap jengkal dan petak bumi nusantara ini telah dipecah pecah dalam satuan kapling ekonomi-politik,”Begitu kata sosilog Tamrin Amal Tamagola dalam sebuah artikel berjudul”Repulik kapling” Diharian kompas (14 february 2005)
Dalam tulisan tersebut,ia terlihat begitu kesal melihat wajah ekonomi Indonesia yang carut-marut,sementara Negara terlihat semakin impoten perannya.Menurut dia,setiap jengkal tanah Indonesia sebenarnya telah dikapling kapling dengan ukuran bervariasi sesuai dengan skala modal yang ditanam serta upeti yang disetorkan karekening pejabat Negara dan DPR ,baik dipusat maupun daerah.


Bukit bukit Timika untuk FREEPORT, Lhok seumawe untk EXON MOBIL, beberapa kabupaten di sulsel untuk MONSANTO, Buyat-Minahasa dan Sumbawa untuk NEWMONT INTERNATIONAL, Teluk Bintun di Papua untuk BRITISH PTROLEUM, Kaltim untuk PT KALTIM PRIMA COAL, Hutan papua untuk sejumlah jendral pensiunan.


Bahkan pulau Dewata,menurut dia,kini nyaris menjadi Negara bagian kesembilan Australia “Makin banyak usaha ekonomi-kesenian skala besar di Bali dan Jepara berpindah tangan ke pemodal asing, satu satunya Taman Burung di Bali pun berada di tangan pemodal asing” katanya getir.
Melihat haus dan rakusnya kaum birokrat di Indonesia ,hamper tidak ada lahan lahan financial yang tersisa,Dari dana pengungsi di depsos sampai lapangan parkir termasuk dikampus kampus,sudah habis dikapling kapling!


Lalu mana sebenarnya yang menjadi bagian kita Rakyat INDONESIA? YANG SEBAGIAN BESAR MASIH HIDUP SERBA KEKURANGAN! Apakah masih ada lahan BISNIS yang bisa digarap rakyat jelata untuk sekedar mempertahankan hidupnya!


Menurut data Biro Pusat statistic ,Ketika terjadi krisis ekonomi akut pada tahun 1997 jumlah penduduk miskin di INDONESIA sempat menyentuh anga 38 juta,belakangan angka tersebut parlahan lahan menurun,hingga pebruary 2004 te4rcatat menjadi 36,1 juta atau kira kira 16,6 persen dari total penduduk Indonesia yang sebesar 217 juta.


Tetapi setelah hampir delapan tahun (1997-2005) rakyat berjuang mengatasi diri keluar dari kemelut kris ekonomi,tiba tiba Tsuami datang memporak porandakan tatanan ekonomi rakyat . Bank pembangunan Asia (ADB) konon memperkirakan bencana tsunami akan menambah jumlah orag miskin sebanyak 1 juta orang!!
Yang jelas ,ditengah tengah absurditas ekonomi seperti inilah rakyat jelata harus berusaha mencari nafkah untuk mempertahankan hidupnya,sebagian, ada yang sukses ,sebagian ada yang gagal.tapi jika dihitung secara menyeluruh,tentu akan lebih banyak yang gagal.


Dan mengikuti filosofi laba laba ,kendati sarangnya berungkali robek,mereka tetap berusaha untuk memperbaikinya karena itulah sumber nafkah dan penghidupannya.
Dari bisnis yang enak dilihat (seperti jualan kelontong di warung warung dantoko toko)sampai bisnis yang ngawur (seperti buka lapak,ngasong dipintu pintu tol dan mengais ngais barang barang bekas ditempat tempat sampah) mereka lakukan dengan penuh kesadaran,merek hanya tahu bahwa hidup ini harus terus berjalan,betapa pun susahnya,betapapun pahitnya.


Apakah mereka yang setiap hari mengais rejeki ditumpukan sampah dari jam 5 pagi samapi jam 5 sore itu akan berubah nasibnya? Jangan jangan mereka bahkan sudah tidak pernah memikirkan lagi soal perubahan dan perbaikan. Tetapi kalaupun memikirkan itu,dan kemudian tahu bahwa jawabannya tidak bisa berubah,apakah mereka lantas berhenti mengais sampah???


Menurut seorang motivator rohani PAUL HIDAYAT STh, Perubahan hanya akan datang jika orang mau belajar, karena perubahan itu hakekatnya merupakan hasil akhir dari sebuah proses belajar yang panjang.
Tapi bila orang mempelajari kebenaran,tetapi tidak kunjung mengalami perubahan hidup ,maka hanya ada dua kemungkinan ,Pertama, orang itu tidak sungguh sungguh belajar, Kedua, yang dipelajari bukanlah kebenaran.
Seorang penasehat keuangan asal Australia PAUL HANNA mengatakan banyak orang suka melakukan jalan pintas karena mereka tidak puas dengan kondisi keuangan mereka,itu bisa dimengerti karena semua orang ingin meraih hasil leih baik,


Namun ketika kepercayaan diri anda berkurang, Anda akan mulai sangsi apakah Anda bisa mengubah nasib dan mencapai taraf hidup yang lebih baik, Banyak orang disekitar kita memilih mendapatkan uang seketika tidak perduli bagaimana caranya.
“TETAPI JIKA ANDA TETAP FOKUS PADA TUJUAN DAN MEMILIKI KETETAPAN HATI,UANG AKAN DATANG DENGAN SENDIRINYA”
Kata penasehat keuangan sejumlah perusahaan Intrnational seperti BMW,Qantas Airlines dan Mc Donal`s .
Dan untuk tetap focus pada tujuan serta punya ketetapan hati,Anda tentu tidak mungkin tidak belajar…. Jika orang tidak yakin pada diri sendiri,maka orang akan mulai menyerah dan tidak berfikir , ketahuilah kesuksesan tidak akan datang dari luar diri sendiri , justru sebaliknya, sukses hanya akan datang dari dalam diri sendiri.


Itulah mengapa ada cerita seorang pedagang asongan bisa berubah menjadi pemilik bank, Seorang agen perjalanan bisa punya perusahaan penerbangan,Seorang pedagang es teller bisa membuka kantor cabang di berbagai Negara.SELAMAT BERUSAHA DI REPUBLIK KAPLING


BELAJAR MERENCANAKAN
Dan disinilah peranan sebuah EVALUASI ,setiap saat atau minimal sebulan sekali kita melakukan evaluasi terhadap segala hal tentang diri kita ,keluarga kita,lingkungan kita dan yang lebih besar lagi ,kota kita,provinsi kita,Negara kita ,dunia kita ,akherat kita.


Dalam keluarga misalnya.evaluasi yang paling mudah adalah terhadap urusan ekonomi keluarga, mudah dinilai karena ada angka angkanya, SURPLUS atau DEFISIT..?,Kalau DEFISIT ,pemborosan terjadi dimana?,transfortasi?,sembako? Atau mungkin yang lain..!


Lalu,bagaimana soal investasi??????Apakah usaha warung,..salon ,…atau jualan roti , atau jualan pulsa,atau bisnis lain berjalan dengan baik???…Kalau tidak harus dinilai kembali,..Dan dicari sebab sebab kegagalannya,..begitulah kira kira yang harus kita lakukan minimal sebulan sekali.
Yang menarik adalah jawaban atas pertanyaan itu,Dia menjadi masukan yang sangat berharga..UNtuk apa lagi kalau bukan untuk rencana baru kedepan,..Karena “RENCANA DIDASARKAN PADA APA YANG DIMILIKI SAAT INI..TAK PERNAH DARI ANGKA NOL.


EVALUASI (menilai masa lalu) dan RENCANA (menata masa depan) menyatu dalam kondisi Anda “saat ini “ .kemarin dan esok itu abstrak,tak ada.yang riil itu adalah hari ini.Makanya tidak bisa tidak anda harus jujur dengan “KONDISI” hari ini.Kalau tidak,EVALUASI hanya pelipur lara dan rencana itu hanya ilusi belaka.
Kendati belum optimal,kebiasaan Anda-kalau demikian-membuat rencana dan evaluasi merupakan tradisi yang harus dipertahankan,tak banyak orang dari negeri ini yang meniti kebiasaan seperti itu,Maklum itu bukan kebiasaan kita.itu disiplin dari~dunia lain~.Tentu disiplin itu tidak turun dari langit
Dia dibangun sekurang kurang diatas dua landasan…PERTAMA, disiplin dibangun diatas pemahaman soal waktu.Bagi kita orang Indonesia kebanyakan menganggap hari ini selalu datang berulang.pagi,siang,sore dan malam yang terjadi hari ini adalah lingkaran berulang dari kemarin.

Jadi sama saja,Besok dia datang lagi.
Karena itu.bagi kita tak ada ~waktu terbuang~,dia hanya pergi kemudian datang lagi,jadi tidak perlu harus buru buru,Hidup itu mengalir saja,Tak perlu ada rencana dan langkah yang terlalu ketat,karena kalau gagal,besok bisa di ulang,


Bagi mereka yang berada dibelahan bumi yang lain,waktu itu linier,dia bergerak pada garis lurus yang tak ada ujungnya.detik ,menit ,jam,hari ,minggu,bulan dan tahun itu merupakan titik yang berbeda,kalau tidak digunakan secara baik maka kita sudah beraada pada titik waktu yang lain.Dia habis dan tak terulang lagi.Jadi waktu itu mereka gunakan dengan baik,Pekerjaan harus penuh rencana,TIME IS MONEY,buang waktu identik dengan buang uang.


KEDUA..,Bukan saja soal memahami waktu yang berbeda,ALAM juga berbeda ,Kita hanya mengenal musim panas dan hujan,Didaerah tropis yang subur,tongkat kayu bisa jadi tanaman,,Tanam apa saja hidup, sepanjang tahun ,bahkan hutan hutan tak habis habis menyediakan makanan.dimusim hujan maupun dimusim panas,Belum lautannya, seperti kolam ikan raksasa,,kapan butuh tangkap saja,Mulai dari ikan teri sampai ikan paus raksasa.


Buat kita yang hidup di alam dan musim seperti ini merasa tidak perlu rencana yang detil buat stok makanan untuk jangka panjang.Kita biasa bekerja hari ini untuk hari ini pula,Maka lahirlah bangsa yang “BERMENTAL ENAK” dari kawasan tropis yang tak terbiasa berpikir panjang,Untuk apa wong semuanya tersedia..!


Berbeda “pengalaman” dengan orang orang dari wilayah empat musim. DIsana, tanaman hanya bisa hidup layak pada musi panas,Itupun berlangsung singkat,tiga ,empat bulan setahun,selebihnya pada musim gugur,dingin dan semi ,alam tak membawa rizqi.
Tapi disinilah tantangannya.Mereka harus merencanakan dengan baik.Berapa banyak bahan makanan yang harus dihasilkan sehingga pada musim dingin mereka tidak kehabisan bahan makanan.Maka mulailah muncul teknologi,sekurang kurangnya dengan alasan pengawetan.


Maka tak usah heran kalau banyak suku bangsa diwilayah utara dengan”empat musim” itu lebih maju dan makmur hidupnya,Disana bermukim bangsa yang tidak hanya dinamis,tapi juga banyak akal dan pintar berencana,Buktinya gambling, sampai sekarang disana berdiam sebagian besar Negara yang hingga saat ni menjadi donator buat kita diselatan.


Itulah kenyataan.Kita harus belajar ~yang baik~dari mereka.Tak perlu lagi disetir oleh alam,Tak untung pula mewarisi kebiasaan tak sehat,bekerja tanpa rencana.Termasuk dalam merencanakan keuangan keluarga,FINANCIAL PLANNING. Maka belajarlah “berencana”.Mulai dari keluarga kita masing masing.Kata orang bijak “PLANNING OR NOTHING.selamat membaca.


Sumber :  Horasmedan

Minggu, 24 Oktober 2010

Lima Kecerdasan SEPIA ( SQ, EQ, PQ, IQ, AQ )


Prolog : Matahari SEPIA
"… karena anugerah manusiawi kita, kita dapat menulis program baru untuk diri kita sendiri … Itulah sebabnya kapasitas binatang relatif terbatas sedangkan kapasitas manusia tidak terbatas."
Stephen R Covey
Apakah Anda sukses? Apakah Anda bahagia?
Sukses dan bahagia. Tampaknya kita setuju bahwa ini adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia.

 Bahagia dan Sukses
Sukses tidak menjamin bahagia, kata banyak orang. Apalagi tidak sukses, lebih tidak menjamin bahagia, kata sebagian yang lain. Benarkah penting bagi kita untuk meraih sukses?
Mari kita sejenak merenungi arti sukses. Bila seseorang menginginkan sesuatu lalu dia mendapatkannya, maka dia disebut sukses. Bila orang tersebut sebelumnya tidak menginginkan sesuatu, lalu tiba-tiba mendapatkannya, apakah juga disebut sukses? Tidak, dia tidak disebut sukses. Jadi sukses adalah sebutan untuk pencapaian sesuatu yang diinginkan.

Kini mari kita renungi apa itu bahagia. Ada nyaman, ada senang, ada gembira, ada bahagia. Seseorang sedang tiduran di tepi pantai. Badannya terasa nyaman menikmati siliran angin sepoi-sepoi dan bunyi deburan ombak yang menghempas ke pasir. Rasa hangat dan santai mengaliri sekujur tubuhnya, hatinya pun senang dan tenteram. Apakah dia bahagia? Seseorang yang lain sedang melakukan olahraga arung jeram, berjuang keras mengatasi guncangan arus ke kanan dan ke kiri. Berjuang sungguh-sungguh di tepi intaian maut. Energi terkuras, badan terasa sangat letih. Anehnya hati merasa riang dan gembira. Apakah dia bahagia? 

Kisah yang lain lagi. Ini untuk kesekian kalinya ia merasakan getaran hati yang sama. Sesuatu yang indah tak terjelaskan. Sesuatu yang begitu mengharukan hati. Di hadapannya tersenyum lebar seorang anak dengan kaki kecil dan bengkok, kaki yang tiada kuasa menopang tubuh mungil itu. Anak ini terserang polio di usia nya yang ke 3 tahun. Dan sejak itu, telah lima tahun dia terbaring hanya di ranjangnya. Hari ini, dengan pemberian kursi roda bekas yang agak reyot, anak itu mendapatkan kesempatannya kembali untuk menjelajahi dunia. Oh Tuhan, terimakasih telah Engkau beri aku kesempatan untuk memberi sedikit harapan kepada makhlukmu yang lain… bisiknya di dalam hati. Bahagiakah orang ini? 

Berbeda dengan sukses, bahagia lebih sulit dinilai. Bila sukses diukur dari seberapa jauh pencapaian seseorang terhadap apa yang dia inginkan, maka bahagia muncul dengan cara yang ajaib. Dia subyektif, dia dirasakan. Dengan demikian dia sulit diukur, kecuali oleh yang mengalaminya.

Seseorang yang bahagia dapat dikatakan sukses, bila memang perasaan bahagia itulah yang ia idamkan, dan kemudian ia meraihnya. Orang lain dapat pula sukses, tapi tidak bahagia, karena memang bukan bahagia itu idamannya. Mungkin dia mengidamkan kekayaan, dan meraihnya. Mungkin mengidamkan ketenaran, dan juga meraihnya. Karena itulah terdapat ungkapan, sukses meraih kebahagiaan. Jadi, sukses adalah status pencapaian, sedangkan bahagia adalah salah satu obyek yang bisa dijadikan tujuan.

Kalau bahagia adalah obyek, maka pertanyaannya adalah: seperti apakah rasa bahagia itu? Ada banyak usulan tentang hal ini, mulai dari yang berciri fisik seperti munculnya zat tertentu di otak, hingga yang sangat filosofis seperti munculnya rasa dicintai Tuhan. Mari kita ambil contoh salah satu definisi, yaitu ciri-ciri yang diusulkan oleh Rick Foster dalam buku How we Choose to be Happy.
Bahagia sejati adalah suatu perasaan yang kuat dan langgeng berupa rasa tenang, puas, mampu, dan kendali penuh atas diri sendiri. Bahagia juga berarti mengetahui kondisi dan keinginan diri, lebih merespon kebutuhan yang nyata daripada tuntutan orang lain, sadar merasakan hidup saat ini, dan mampu menikmati buah kehidupan. 

Kriteria pilihan Rick Foster tersebut ternyata merupakan ciri-ciri emosi dan mental. Merujuk kriteria tadi cukup jelas bahwa kita dapat meraih kebahagiaan melalui sukses dengan cara selalu menetapkan tujuan yang dapat menimbulkan bahagia tersebut. Dengan demikian saat tujuan tercapai, maka tercapai pula bahagia. Selain itu, karena bahagia bersifat subyektif, maka kita bahkan dapat menciptakan rasa bahagia sepanjang perjalanan menuju sukses.

Dapatkah kita bahagia tanpa sukses? Tentu dapat, terutama bila itu hanya ditujukan untuk diri sendiri. Seseorang yang miskin, namun mampu mensyukuri keadaannya, tentu dia dapat merasakan kebahagiaan. Masalah muncul bila kita bicara tentang kebahagiaan yang diraih dengan berkontribusi ke sesuatu di luar kita, maka tidak sukses boleh jadi akan menghambat tercapainya sebagian kebahagiaan. Andaikan seseorang yang bahagia tapi miskin tersebut adalah seorang ayah dari 3 orang anak. Suatu ketika anaknya sakit dan dia tidak mampu membiayai untuk berobat, maka boleh jadi saat itu sangat sulit untuk berbahagia. Demikian juga saat tidak punya makanan, tidak mampu menyekolahkan, tidak mampu meluangkan waktu bersama, dan sebagainya. Karena itu sebuah kesuksesan merupakan hal penting. Semakin kita sukses, semakin besar peluang untuk berbahagia dengan memberikan kontribusi ke sesuatu di luar diri kita.

Karena sukses dan bahagia dua hal terpisah, dapatkan bahagia mengantarkan kita ke sukses? Anda sudah tahu jawabannya, tentu saja dapat. Bila bahagia adalah tujuan yang kita pilih, maka mampu merasa bahagia saja sudah disebut sukses. Banyak orang mengalami, keputusan untuk menjadi bahagia akhirnya mengantar mereka untuk mencapai sukses yang lebih tinggi dan lebih banyak. 

Bahagia dan sukses dapat diprediksi! Bahagia dan sukses adalah buah dari perilaku. Karena itu bila kita mempunyai perilaku orang yang bahagia dan sukses, pasti suatu saat menjadi bahagia dan sukses pula.. Perilaku adalah buah dari kebiasan. Kebiasaan dimulai dari sikap. Sikap dipengaruhi oleh paradigma. Paradigma dipengaruhi oleh pengetahuan. Jadi, awalnya adalah pengetahuan. Setiap hari, pengetahuan beredar secara berlimpah ruah di sekeliling kita. Kemampuan menangkap pengetahuan, mengolahnya, menghayatinya, dan menjadikannya sebagai aksi untuk meraih tujuan, sangat dipengaruhi oleh kecerdasan. 

Dr. Stanley dalam karyanya The Millionaire Next Door yang berisi penelitiannya terhadap para milyuner di Amerika menunjukkan bahwa para orang sukses memiliki kecerdasan yang cukup baik. Para milyuner yang diteliti berasal dari berbagai kalangan seperti kontraktor las, penjual barang bekas, petani, pembasmi hama, hingga penjual koin. Yang jelas, mereka mempunyai satu kesamaan yaitu sangat merdeka secara finansial. Kebanyakan mereka hidup relatif sederhana dibandingkan dengan jumlah kekayaannya. Mobil mereka seperti rata-rata milik orang kebanyakan, rumah mereka berada di perumahan orang kebanyakan. Mereka juga bergaul dengan orang kebanyakan. Sebagian besar dari mereka tidak suka tampil di depan publik. Mereka rata-rata bersekolah dengan baik. Kalaupun putus sekolah, itu dikarenakan kondisi ekonomi keluarga, bukan karena mereka tidak cerdas. Jadi para milyuner ini memiliki kecerdasan intelektual, IQ, yang baik. Mereka juga adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang menjadi bukti bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional, EQ, yang baik. 

Semua dari mereka juga setuju bahwa kehidupan spiritual, pelayanan, dan sedekah adalah hal yang sangat penting. Kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor. Mereka meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki, sebagai pendamping yang tidak kelihatan, atau sering disebut sebagai "silent partner". Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kecerdasan spiritual, SQ yang sangat baik.

Studi terhadap orang-orang yang sangat sukses menujukkan bahwa mereka juga memiliki ciri-ciri lain yang menonjol. Pertama, mereka mempunyai mimpi yang besar, tujuan yang jelas, dan teguh memegang mimpinya tersebut. Kedua, mereka tidak bekerja sendirian, mereka mampu memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam dirinya maupun di sekeliling dirinya. Jadi, mereka mengembangkan dua kecerdasan lainnya sebagai pelengkap dari IQ-EQ-SQ. Mereka mengembangkan kecerdasan yang disebut Kecerdasan Aspirasi (Aspiration Intelligence), dan Kecerdasan Kekuatan (Power Intelligence). Ternyata para orang sukses mengembangkan lima kecerdasan dengan seimbang! Kelima kecerdasan ini kita sebut Kecerdasan SEPIA (Spiritual - Emotional - Power - Intellectual - Aspiration).

Dalam sisi manusia yang lebih dalam, sesungguhnya kita memiliki anugerah ilahi yang membuat diri kita unik. Anugerah ilahi terpenting ini adalah "kebebasan untuk memilih". Dari anugerah penting inilah anugerah–anugerah yang lain saling terkait. Manusia dilengkapi dengan anugerah kesadaran diri, imajinasi, suara hati, dan kehendak bebas. Manusia juga mendapat anugerah proses, yaitu senang belajar dan senang bertanya. Ketika berbagai anugerah ini dipadukan maka manusia mampu membangun peradaban dalam bentuk kehidupan sosial bermasyarakat, berbisnis, pendidikan, seni, dan teknologi. Di sisi dalam, manusia juga mampu menyempurnakan pemahamannya tentang kemanusiaan, makna kehidupan, arti suatu pengorbanan, dan bakti kepahlawanan. Sayangnya anugerah ini sering tertimbun oleh kesibukan sehari-hari. Kecerdasan SEPIA adalah suatu upaya untuk menerbitkan kembali semua potensi dalam diri kita untuk meraih bahagia dan sukses.

 Aspiration Intelligence
Awalnya adalah karunia kesadaran diri. Manusia mampu menyadari keberadaan dirinya di dunia ini. Dengan kesadaran diri inilah manusia dapat mendeteksi kebutuhan-kebutuhannya dan keinginan-keinginannya. Manusia butuh makan, ingin hidup enak, ingin menikmati alam, ingin mencipta, ingin meraih sesuatu, ingin memiliki makna hidup. Kesadaran diri akhirnya menggerakkan karunia kecerdasan pertama, yaitu kemampuan manusia untuk bermimpi, membuat tujuan, dan cita-cita. Manusia mampu beraspirasi. Inilah kecerdasan aspirasi (Aspiration Intelligence), kecerdasan membuat cita-cita.

Penelitian perbandingan antara para orang sukses terhadap orang-orang biasa menunjukkan bahwa kecerdasan aspirasi ini menjadi salah satu perbedaan yang sangat menonjol. Kebanyakan orang tidak berani berpikir dan bermimpi besar. Itulah mengapa kebanyakan orang tidak mencapai prestasi yang besar, karena… memang tidak pernah memimpikan prestasi yang besar!

Penelitian terhadap orang-orang yang bahagia pun menunjukkan bahwa mereka secara sadar mempunyai keinginan untuk menjadi bahagia, dan berusaha meraihnya. Jadi mereka menjadikan bahagia sebagai salah satu tujuan dalam hidupnya. Dalam perjalanan meraih cita-cita manusia kemudian sadar bahwa meraih cita-cita atau sukses sangat berbeda dengan bahagia. 

Spiritual Intelligence
Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia : Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita.

Kesadaran tentang penyebab rasa bahagia ini menggerakkan karunia kecerdasan kedua, kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Manusia yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.

Kecerdasan spiritual bukanlah agama (religi). Terlepas dari agama, manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya bersusah payah mendaki puncak tertinggi Everest di pegunungan Himalaya.
Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini 'tampak' kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin. Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, 'silent partner' mereka. 

Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita. Kunci bahagia adalah Kecerdasan Spiritual.

 Intellectual Intelligence
Didorong keinginan untuk meraih cita-cita manusia menggunakan kecerdasan ketiga, yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan proses mewujudkan, proses penciptaan. Inilah karunia kecerdasan intelektual (Intellectual Intelligence), yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan manusia untuk belajar dan menciptakan sesuatu. 

Sebagian orang menyebutnya sebagai bakat. Memang setiap orang dikaruniai kelebihan berbeda-beda dalam kecerdasan intelektual ini. Yang kuat matematika seperti Einstein lebih mudah untuk memahami persoalan matematika, memecahkan persoalan, bahkan mendefinisikan problem matematika. Di lain sisi, seorang Michael Jordan adalah orang yang memiliki bakat di bidang olahraga basket. Dia dengan mudah menguasai suatu permainan basket (kemampuan belajar) dan bisa tampil di pertandingan dengan luar biasa (kemampuan penciptaan). Michael Jordan memiliki kecerdasan intelektual yang berbeda dengan Einstein. Para orang sukses dengan jelas terlihat sebagai pembelajar yang baik. Mereka belajar dan terus belajar. Karena mereka percaya bahwa Tuhan Maha Adil, maka mereka pun yakin bahwa bakat unik yang dikaruniakan kepada mereka akan mampu digunakan untuk meraih sukses.

Kalau memang benar bahwa manusia diberi potensi sama untuk meraih sukses, mengapa sebagian orang berhasil mewujudkan cita-citanya sementara sebagian lainnya tidak? Ternyata dalam proses mewujudkan cita-cita tersebut kemampuan penciptaan perlu memperhatikan faktor lain selain bakat : emosi.

 Emotional Intelligence
Studi menunjukkan bahwa peran emosi dalam meraih tujuan ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan bakat. Akhirnya disadari ada hal lainnya, kecerdasan emosi (Emotional Intelligence), yaitu kemampuan manusia untuk mendeteksi dan mengelola emosi baik di dalam dirinya maupun di dalam diri orang lain.
Studi terhadap para orang sukses menunjukkan ciri yang sama : kontrol diri kuat. Mereka mengenali emosi diri dan sanggup mengendalikannya. Mereka melawan emosi takut, cemas, terburu-buru, berfoya-foya, rendah diri, untuk akhirnya menang menjadi pribadi yang berani, ulet, sabar, sederhana, dan berjiwa merdeka. Mereka mampu pula mengenali emosi orang lain, sehingga dapat membawakan diri dengan baik terhadap orang lain, mampu bekerjasama, dan peka untuk saling menolong.

Power Intelligence
Dan akhirnya manusia menyadari adanya kecerdasan kelima yaitu kecerdasan kekuatan (Power Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola kekuatan baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.

Kecerdasan kekuatan ini menentukan seberapa efektif dan efisien seseorang dalam usaha mencapai tujuannya. Secara intuitif manusia tahu bahwa dengan menggunakan alat bantu dia dapat bekerja lebih efisien. Manusia memanfaatkan pecahan batu untuk dijadikan pisau. Dengannya manusia bisa berburu lebih efisien dan efektif. Manusia juga mengetahui bahwa bekerja sama dengan manusia lain dapat membuat pekerjaan lebih mudah. Manusia menggabungkan kekuatan bakat, menyusun strategi, bekerja sama, membuat alat, bahkan bermimpi (membuat tujuan) bersama. Semua ini adalah tanda bahwa manusia dikaruniai kecerdasan dalam mengelola berbagai kekuatan.

Sebagian orang lebih cerdas kekuatan dibandingkan sebagian yang lain. Hal ini menjelaskan fenomena mengapa sebagian orang lebih cepat meraih sukses dibandingkan sebagian yang lain. Mereka yang cerdas kekuatan tidak sekedar mengandalkan kekuatan dirinya namun dengan cerdas mengelola pula kekuatan di luar dirinya. Kekuatan alam, kekuatan manusia, kekuatan binatang, dan juga instrumen-instrumen abstrak yang diciptakan manusia melalui kesepakatan seperti uang dan hukum. Kekuatan-kekuatan inilah yang dengan cerdas dikelola oleh para orang sukses untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. 

 Karakter dan Kompetensi
Kelima kecerdasan SEPIA menggambarkan dua hal penting dalam diri manusia, yaitu karakter (Character) dan kemampuan / kompetensi (Competence).

Karakter adalah hal-hal yang berhubungan dengan sikap manusia. Di masa dahulu, karakter dianggap sebagai ukuran terpenting manusia. Karena itu dalam cerita-cerita jaman dahulu ditekankan tentang sikap ksatria, kejujuran, keuletan, kesabaran, dan semacamnya. Sedikit berbeda di awal abad-20, yaitu di jaman industri, kemampuan (kompetensi) menjadi ukuran penting.

Kompetensi, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, menjadi penting karena industrialisasi menuntut kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Karena pada saat itu manusia mampu menciptakan sistem-sistem yang jauh lebih baik (mesin, sistem upah, sistem hukuman, dsb) maka karakter menjadi bidang yang agak terabaikan. Pada masa ini ukuran keberhasilan manusia diyakini dapat dilihat dari level IQ (Intelligence Quotient) yang lebih menggambarkan potensi kompetensi manusia.

Pandangan terhadap manusia kembali seimbang di akhir abad-20 dengan banyaknya temuan penelitian tentang peran karakter bagi sukses seseorang. Di akhir abad-20 kembali ramai wacana EQ (Emotional Quotient), AQ (Adversity Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Yang belum banyak dibahas adalah adanya kecerdasan pengelolaan-kekuatan (Power Intelligence) dan kecerdasan aspirasi (Aspiration Intelligence) yang bersama dengan model SEPIA merupakan kontribusi inti dari buku ini. 

Saat ini karakter dan kompetensi dipandang sama penting. Seseorang ketika melamar pekerjaan misalnya, akan diuji baik kompetensinya maupun karakternya. Mereka yang diyakini akan berhasil dalam pekerjaan biasanya memiliki kemampuan yang diperlukan (kompetensi) maupun karakter yang disyaratkan seperti jujur, tekun, sabar, hormat, dan sebagainya. Seorang yang mempunyai keahlian sangat tinggi namun diragukan karakternya dapat menjadi berbahaya. Dia mungkin pintar, tapi bisa saja tidak bertanggungjawab, korupsi, menipu, membuat suasana kerja tidak nyaman, dan sebagainya. Sebaliknya, seseorang yang hanya memiliki karakter namun tanpa kompetensi juga tidak berguna, karena tidak dapat menciptakan nilai. Boleh saja dia jujur, tekun, hormat, tapi bila tidak memiliki pendidikan dan keahlian yang diperlukan akan menyebabkan banyak kesalahan, tidak efisien, tidak efektif, dan bahkan dapat membahayakan karena kesalahan kerja. Menggunakan orang dengan karakter baik tapi tanpa kompetensi sama berbahayanya dengan orang kompeten yang tidak berkarakter.

Karakter dan kompetensi ibarat malam dan siang, ibarat yin dan yang. Keduanya perlu ada bersamaan, saling mempengaruhi, dan seimbang. Tanpa salah satunya manusia menjadi pincang. Konsep kecerdasan SEPIA merupakan paradigma (cara pandang) baru pengembangan karakter-kompetensi, yang selaras dengan konsep psikologi Teori Kelompok Faktor (Group Factors Theory). 

Paradigma SEPIA ini memberi perubahan besar dan mendasar dalam memahami, mengembangkan, dan memanfaatkan kecerdasan manusia. Hasil akhirnya adalah perubahan dalam sistem pendidikan, sistem rekrutmen, sistem evaluasi, dan cara bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
"Jika anda menginginkan perubahan kecil, garaplah perilaku Anda. Jika anda menginginkan perubahan besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda."
Stephen R Covey
Matahari SEPIA
Agar mampu untuk sukses dan bahagia, manusia memerlukan pengembangan kelima kecerdasannya. Sukses disini dalam arti yang luas, menyangkut finansial, bisnis, karir, keluarga, kesehatan, pengembangan diri, kebahagiaan, dan semua tujuan yang berharga bagi manusia. Kelima kecerdasan ini merupakan refleksi dari karakter dan kompetensi. Kecerdasan aspirasi (Aspiration), spiritual (Spiritual) dan emosional (Emotional) mewakili karakter (Character). Sedangkan kecerdasan intelektual (Intelectual) dan pengelolaan-kekuatan (Power) mewakili kompetensi (Competence). Hubungan keseluruhan kecerdasan tersebut digambarkan dengan baik melalui Matahari SEPIA.


Di tengah bulatan matahari adalah keseimbangan karakter dan kompetensi yang dilambangkan dengan C-C (Character-Competence) dalam bentuk lingkaran Yin-Yang. Kekuatan karakter terpancar melalui tiga kecerdasan yaitu aspirasi (A), spiritual (S), dan emosi (E). Sedangkan kekuatan kompetensi terpancar melalui dua kecerdasan yaitu intelektual (I) dan pengelolaan-kekuatan (P).

Keseimbangan
Alam diciptakan dalam keseimbangan. Demikian pula kecerdasan manusia perlu dikelola secara seimbang. Mengelola hanya kemampuan intelektual saja tidaklah seimbang. Demikian pula bila hanya fokus pada nilai spiritual, tidak juga seimbang. Keseluruhan kecerdasan SEPIA perlu dikelola, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara seimbang. Menjadi selaras dan seimbang adalah kunci menuju bahagia dan sukses.

Sumber :  Sepia.blogsome.com atau * Buku SEPIA : 5 Kecerdasan Utama Meraih Bahagia dan Sukses (2005), tersedia di toko GRAMEDIA kategori PSIKOLOGI .

Jumat, 22 Oktober 2010

Pengertian IQ, EQ, dan SQ

A. PENGERTIAN ATAU DEFINISI DARI IQ, EQ DAN SQ
 
1. Kecerdasan Intelektual (IQ)
Orang sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.
IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Rumus kecerdasan umum, atau IQ yang ditetapkan oleh para ilmuwan adalah :
Usia Mental Anak
x 100 = IQ
Usia Sesungguhnya
Contoh : Misalnya anak pada usia 3 tahun telah punya kecerdasan anak-anak yang rata-rata baru bisa berbicara seperti itu pada usia 4 tahun. Inilah yang disebut dengan Usia Mental. Berarti IQ si anak adalah 4/3 x 100 = 133.
Interpretasi atau penafsiran dari IQ adalah sebagai berikut :
TINGKAT KECERDASAN
IQ
Genius
Di atas 140
Sangat Super
120 - 140
Super
110 - 120
Normal
90 -110
Bodoh
80 - 90
Perbatasan
70 - 80
Moron / Dungu
50 - 70
Imbecile
25-50
Idiot
0 - 25

2. Kecerdasan Emosional (EQ)
EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Golleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi.
Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.
Beberapa pengertian EQ yang lain, yaitu :
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri sendiri dalam berhubungan dengan orang lain (Golleman, 1999). Emosi adalah perasaan yang dialami individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Emosi tersebut beragam, namun dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti; marah, takut, sedih, gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock, 1994).
Ø Kemampuan mengenal emosi diri adalah kemampuan menyadari perasaan sendiri pada saat perasaan itu muncul dari saat-kesaat sehingga mampu memahami dirinya, dan mengendalikan dirinya, dan mampu membuat keputusan yang bijaksana sehingga tidak ‘diperbudak’ oleh emosinya.
Ø Kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan menyelaraskan perasaan (emosi) dengan lingkungannnya sehingga dapat memelihara harmoni kehidupan individunya dengan lingkungannya/orang lain.
Ø Kemampuan mengenal emosi orang lain yaitu kemampuan memahami emosi orang lain (empaty) serta mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain yang dimaksud.
Ø Kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan mendorong dan mengarahkan segala daya upaya dirinya bagi pencapaian tujuan, keinginan dan cita-citanya. Peran memotivasi diri yang terdiri atas antusiasme dan keyakinan pada diri seseorang akan sangat produktif dan efektif dalam segala aktifitasnya
Ø Kemampuan mengembangkan hubungan adalah kemampuan mengelola emosi orang lain atau emosi diri yang timbul akibat rangsang dari luar dirinya. Kemampuan ini akan membantu individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara memuaskan dan mampu berfikir secara rasional (IQ) serta mampu keluar dari tekanan (stress).
Manusia dengan EQ yang baik, mampu menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah bersosialisasi, mampu membuat keputusan yang manusiawi, dan berpegang pada komitmen. Makanya, orang yang EQ-nya bagus mampu mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih baik.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Tidak lain karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .
Di samping itu, kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik .
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengendalikan emosinya saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun menyakitkan. Mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tandjung adalah contoh orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, mampu mengendalikan emosinya dalam berkomunikasi.
Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah "qalbu" . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.
3. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Selain IQ, dan EQ, di beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta.
Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).
Selain itu menurut Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001, IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’
Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.

Sumber : 4gus3.blogspot.com